Waktu sholat dalam Al-Qur’an dan Hadis
Al-Qur’an menyebut sholat diwajibkan pada waktu-waktu tertentu, dan Nabi ﷺ menunjukkan waktu-waktu itu dengan perbuatannya. Mazhab sepakat pada sebagian besar waktu dan berbeda pada beberapa hal: awal Asar, akhir Magrib dan waktu bersama dalam mazhab Ja‘fari.
Dalam Al-Qur’an
- QS 4:103 Sesungguhnya sholat itu kewajiban yang ditentukan waktunya atas orang-orang beriman.
- QS 17:78 Dirikanlah sholat sejak matahari tergelincir sampai gelapnya malam, dan bacaan di waktu fajar.
- QS 11:114 Dirikanlah sholat pada kedua ujung siang dan pada bagian permulaan malam.
- QS 2:238 Peliharalah semua sholat dan sholat wustha. Nabi ﷺ menyebut sholat wustha adalah sholat Asar (Shahih Muslim 627).
- QS 2:187 Makan dan minumlah hingga jelas bagimu benang putih dari benang hitam, yaitu fajar. Waktu Subuh dimulai dengan fajar shadiq ini.
Dalam Hadis
- Abu Dawud 393, Tirmidzi 149 Jibril mengimami Nabi ﷺ di dekat Ka‘bah selama dua hari: hari pertama tiap sholat di awal waktunya, hari kedua mendekati akhirnya, lalu berkata waktu sholat ada di antara keduanya.
- Shahih Muslim 612 Waktu Zuhur dari tergelincirnya matahari sampai bayangan seseorang sama dengan tingginya; Asar sampai matahari menguning; Magrib sampai mega hilang; Isya sampai tengah malam; Subuh dari terbit fajar sampai matahari terbit.
- Shahih Muslim 681 Kelalaian adalah menunda sholat sampai masuk waktu sholat berikutnya. Mayoritas ulama mengambil dari sini bahwa Isya sah sampai Subuh, meski lebih utama sebelum tengah malam.
- Shahih Muslim 705 Ibnu Abbas: Nabi ﷺ menjamak Zuhur dengan Asar dan Magrib dengan Isya di Madinah tanpa rasa takut dan hujan, agar tidak memberatkan umatnya.
Perbedaan mazhab
Asar
Mazhab Syafi‘i, Maliki, Hanbali dan Ja‘fari memulai Asar ketika bayangan sama panjang dengan bendanya (ditambah bayangan zawal), berdasarkan hadis Jibril. Abu Hanifah berpendapat dimulai saat dua kali panjangnya, memahami Shahih al-Bukhari 557 (waktu dari Asar sampai terbenam adalah bagian siang yang paling pendek) dan 533 (tunda Zuhur saat panas) bahwa waktu Zuhur lebih panjang.
Magrib
Mazhab Sunni sholat Magrib saat matahari terbenam (Shahih al-Bukhari 561). Mazhab Ja‘fari menunggu hilangnya mega merah di timur, berdasarkan riwayat Imam ash-Shadiq dalam al-Kafi dan Wasa’il asy-Syi‘ah.
Isya
Mayoritas ulama memulai Isya ketika mega merah hilang. Abu Hanifah berpendapat ketika mega putih hilang, yang lebih lambat.
Zuhur dan Asar, Magrib dan Isya
Dalam mazhab Ja‘fari, Zuhur dan Asar berbagi waktu dari tengah hari sampai terbenam, Magrib dan Isya sampai tengah malam, tiap pasangan dikerjakan berurutan. Imam ash-Shadiq: jika matahari tergelincir, masuklah waktu kedua sholat (Man La Yahdhuruhu al-Faqih, jilid 1). Mazhab Sunni memberi tiap sholat waktunya sendiri. Syafi‘i, Maliki dan Hanbali membolehkan jamak saat safar (Hanbali juga karena sakit dan kebutuhan lain); Hanafi hanya di Arafah dan Muzdalifah saat haji.
Nomor hadis mengikuti sunnah.com. Sumber Ja‘fari disebut dengan nama kitab dan bab.
Terakhir diperbarui: Selasa, 6 Oktober 2026