Duha: Al-Qur’an dan Hadis
Dalil dari Al-Qur’an dan hadis, pandangan Sunni (Hanafi, Syafi‘i, Maliki, Hanbali) dan pandangan Syiah (Ja‘fari) berdampingan.
Waktu sholat Duha
Pandangan Sunni (Hanafi, Syafi‘i, Maliki, Hanbali)
- Shahih Muslim 748 Sholat awwabin adalah ketika anak unta merasakan panas matahari: waktu terbaik Dhuha, sekitar seperempat siang.
- Shahih Muslim 831 Jangan sholat saat matahari tepat di atas sampai tergelincir, maka Dhuha berakhir sesaat sebelum Zuhur.
Pandangan Syiah (Ja‘fari)
- Riwayat dari para Imam Ahlul Bait menyebut sholat Dhuha sebagai bid‘ah, maka mazhab Ja‘fari tidak menghitungnya sebagai sholat sunnah.
Keutamaan sholat Duha
Pandangan Sunni (Hanafi, Syafi‘i, Maliki, Hanbali)
- Shahih Muslim 720 Setiap pagi ada sedekah atas setiap persendian, dan dua rakaat Dhuha sudah mencukupinya.
- Shahih al-Bukhari 1981, Shahih Muslim 721 Abu Hurairah: kekasihku ﷺ berwasiat kepadaku: puasa tiga hari setiap bulan, dua rakaat Dhuha, dan witir sebelum tidur.
Pandangan Syiah (Ja‘fari)
- Tidak termasuk sholat sunnah dalam mazhab Ja‘fari.
Sholat Duha: rakaat
Pandangan Sunni (Hanafi, Syafi‘i, Maliki, Hanbali)
- Minimal 2 rakaat.
- Shahih Muslim 719 Aisyah: beliau ﷺ sholat Dhuha empat rakaat dan menambah sesuai kehendak Allah.
- Shahih al-Bukhari 1176, Shahih Muslim 336 Ummu Hani: pada hari Fathu Makkah beliau ﷺ sholat delapan rakaat di waktu Dhuha.
Pandangan Syiah (Ja‘fari)
- Tidak dikerjakan sebagai sholat tersendiri dalam mazhab Ja‘fari.
Nomor hadis mengikuti sunnah.com. Sumber Ja‘fari disebut dengan nama kitab, jilid dan bab.
Dalil sholat lainnya
Terakhir diperbarui: Selasa, 6 Oktober 2026